google

Tampilkan postingan dengan label indonesia ku. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label indonesia ku. Tampilkan semua postingan

Jumat, 18 Maret 2011

Kenapa Berobat ke Dokter Mahal??

Memeriksakan diri ke dokter memang membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Belum lagi untuk menebus obat yang diresepkan dokter. Karena biaya yang tinggi akhirnya banyak yang memilih langsung ke apotek untuk beli obat yang biasa dipakai.

Tahukah Anda bahwa obat yang diberikan dokter harus berdasarkan indikasi atau kebutuhan yang disesuaikan dengan kondisi pasien?

Misalnya, Anda merasa demam tinggi. Kemudian memeriksakan diri ke dokter. Dokter kemudian akan mencari apa sebenarnya penyebab demam itu karena demam hanya sebuah gejala. Mungkin saat itu Anda demam dan disertai batuk. Batuk pun berbeda-beda penyebabnya. Bisa karena alergi, infeksi atau yang lainnya. Infeksi juga dapat disebabkan oleh virus, bakteri atau kuman lain. Lebih lanjut lagi, virus atau bakteri atau kuman lain juga ada banyak jenisnya.

Nah, dari data yang ditemukan tersebut maka dokter akan menentukan obat apa yang harusnya diberikan kepada pasien.

Apabila dokter masih belum yakin akan penyebab penyakit
, maka dokter akan meminta pasien melakukan pemeriksaan laboratorium baik itu periksa darah, foto X Ray, CT Scan dan lain sebagainya. Terkadang hasil tersebut juga masih belum dapat meyakinkan penyebab penyakit. Dokter akan tetap terus menelususi. Dalam kondisi seperti ini, dokter akan memberikan obat yang disesuaikan dengan yang dibutuhkan pasien.

Saking panjangnya proses yang dilakukan membuat biaya pengobatan membengkak. Sehingga terkadang pasien langsung ke apotek untuk membeli obat tanpa ke dokter. Yang perlu hati-hati adalah apotek di Indonesia dapat memberikan obat tanpa resep meskipun untuk obat-obat keras.

Sebagai contohnya, kita akan dengan gampangnya membeli obat jenis Antibiotik tanpa resep. Hanya dengan menyebutkan nama dan jumlah yang dimau, apotek akan memberikan obat yang dimaksud. Padahal obat ini berbahaya apabila dikonsumsi tidak sesuai dengan jenis kuman dalam tubuh yang akan dibasmi.

Masalah yang dapat dijumpai antara lain adalah sakit yang tidak sembuh-sembuh karena kuman tidak dapat dibasmi dengan antibiotik yang dikonsumsi, bahkan justru kuman 'baik' yang terbasmi. Akibat lain adalah terjadinya efek resistensi, yaitu memberikan kekebalan kepada kuman atas obat. Hal ini dapat terjadi akibat jenis obat yang tidak sesuai, dosis yang tidak sesuai atau cara pemberian yang tidak benar. Yang kesemuanya sangat mungkin terjadi apabila pasien hanya datang ke apotek untuk membeli obat tanpa instruksi dari dokter.

Sebenarnya Ada beberapa tips untuk bisa meringankan biaya atas pengobatan, yaitu dengan ikut serta program asuransi, meminta dokter untuk meresepkan obat Generik atau tentunya dengan jalan menjaga pola hidup sehat.

Asuransi memang tidak begitu populer di Indonesia. Berbeda dengan di negara berkembang lain yang mewajibkan semua orang untuk ikut serta dalam program asuransi. Ada beberapa jenis asuransi kesehatan yang ditawarkan, yang dapat disesuaikan dengan kebutuhan kita masing-masing.

Adalah hak pasien untuk mengetahui apa yang terjadi pada dirinya dan mengetahui terapi atau tindakan yang diberikan kepadanya. Apabila dokter tidak memberikan jawaban, tanyalah. Apabila dokter tidak memberikan jawaban yang memuaskan, pasien berhak untuk memilih dokter yang lain.

Pasien juga mempunyai hak untuk mengetahui obat-obat apa saja yang diberikan oleh dokter. Mintalah dokter untuk menjelaskan obat apa saja yang diresepkan, tidak hanya dijelaskan cara minum (berapa kali seharinya). Apabila dirasa obat yang diberikan terlalu banyak, tanyalah obat mana yang bisa tidak dibeli? Karena kadang dokter memberikan multivitamin, yang dapat pula pasien ganti dengan pola makan yang baik.

Selain itu juga pasien mempunyai hak untuk minta diresepkan obat generik. Atau pasien dapat meminta ke apotek untuk menukar obat yang diresepkan oleh dokter dengan obat generik dengan komposisi yang sama. Ingat, dengan komposisi yang sama. Apabila terasa biaya obat terlalu mahal.

Hal lain yang paling mudah untuk meringankan beban pengobatan tentunya adalah dengan menjaga pola hidup yang sehat. Selamat berobat kawan

sumber : detik
Baca Selanjutnya … Kenapa Berobat ke Dokter Mahal??

Selasa, 15 Maret 2011

Wow.. Biaya Kemacetan Jakarta Rp 46 T per Tahun

Macet dan banjir dua masalah pokok yang dihadapi Jakarta. Namun begitu, masalah kemacetan dinilai lebih sulit cari solusinya ketimbang masalah banjir yang bisa diantisipasi waktunya.

"Biaya kemacetan di Jakarta diperkirakan Rp 46 triliun per tahun meliputi biaya bahan bakar minyak (BBM), operasional kendaraan, time value dan lainnya," Kadishub DKI Jakarta Udar Pristono dalam acara diskusi 'Mengurai Infrastruktur Transportasi Jakarta' di Hotel Sultan, Jakarta, Selasa (15/3/2011).

Dalam diskusi ini hadir pula Anggota Komisi V DPR RI Nusyirwan Soejono dan pakar transportasi Darmaningtyas.

Pris, demikian Pristono disapa, mengatakan, penyebab kemacetan di Jakarta tidak lain karena tidak efisien dan efektifnya penggunaan ruang jalan di ibukota. Pertumbuhan kendaraan bermotor pribadi yang semakin pesat, tidak sebanding dengan fasilitas angkutan umum massal yang diharapakan bisa mengakomodir kebutuhan masyarakat.

"Maka itu kita menerapkan Pola Transportasi Makro (PTM) yang terdiri dari Pengembangan Angkutan Umum Massal, Pembatasan Lalu Lintas, dab Peningkatan Kapasitas Jaring Jalan," imbuh pria yang akrab disapa Pris ini.

Dalam Pengembangan angkutan umum massal, saat ini Jakarta tengah mengembangkan jaringan Busway dan proyek Mass Rapid Transit (MRT) yang ditargetkan mulai dibangun pada 2012 mendatang.

"Untuk yang koridor pertama itu rute Lebak Bulus-Bundaran HI," jelas Pris.

Sedangkan untuk peningkatan kapasitas jaringan, saat ini DKI tengah melakukan pelebaran jalan, flyover dan underpass, dan pengembangan jaring jalan dibeberapa titik jalan. Kemudian, untuk pembatasan lalu lintas meliputi pembatasan kendaraan bermotor, Electronic Road Pricing (ERP), parkir, serta fasilitas park and ride.

sumber detik
Baca Selanjutnya … Wow.. Biaya Kemacetan Jakarta Rp 46 T per Tahun